Showing posts with label my thought. Show all posts
Showing posts with label my thought. Show all posts

February 25, 2016

Being a gay is a Choice... IS IT?

S udah lama rasanya sejak terakhir saya posting di blog ini... seperti mati suri...
Banyak kejadian yang sebenernya ingin saya tulis, tapi... selalu mentok dengan jadwal... atau udah keburu cape... meski sebagian besar, mungkin karena sebagian besar yang ingin saya tulis, tiba-tiba menguap gitu aja waktu udah mau mulai ngetik.

Sudah 4 tahun lebih, sejak pertama kali saya tinggal di kota ini, mudah-mudahan gak lama lagi bisa menyelesaikan proses pendidikan ini, meski masih banyak “hutang” yang harus saya kerjakan sebelum bisa tamat dan menyandang tambahan gelar... #gapentingya

Pada satu titik, saya harus menuliskan apa yang beberapa hari ini mengisi benak saya... sedih...
Kayanya dulu pernah nulis tentang bahasan ini, tapi ingin saya tulis lagi.
Sebagai catatan, semua yang saya tulis, berdasar apa yang saya alami, pikir, dan rasakan...

As we know, few weeks lately,... lagi heboh orang-orang ngomongin tentang LGBT... apa-apa disangkutin dengan LGBT, dan ternyata, hari gini masih banyak orang menganggap setiap LGBT dengan stereotipikal yang negatif.

Bebebrapa minggu yang lalu, seorang kerabat saya, seorang dengan jabatan di sebuah perusahaan besar, bisa dibilang, dalam keluarga besar, everyone was looking up on him... dengan latar pendidikan yang mengagumkan, dan sempat melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Singkat kata, I thouht his point of view, much less would be a bit expanded, regarded to nowadays culture (especially in western countries) which was a bit more friendly about LGBT.

Instead,... as one of the most frequent relative who updated his facebook’s posting, he said

“I will kill you, if you touch me one more time...”, caused by someone (gay?) touched him in front of his wife...
I didn’t know how “awfull” was the touch... was it so “teasing and embarassing”-kind of touch that might insult his pride?... so he thought that  they deserved to be murdered?
Satu lagi postingan-nya bilang... 
“ LGBT is a sickness... just accept that it is a disease, and get some help to be cured. It was just as simple as that!”

Atau, kultwit dari seorang anggota dewan yang dengan nama agama menjelaskan apa yang dia kira sedang terjadi di Indonesia, bahwa “kaum LGBT” sedang mengadakan suatu propaganda untuk melakukan kegiatan “penyebaran virus” LGBT dengan segala skenario yang menyudutkan... yang bahkan membuat seolah-olah “kaum normal (straight)” adalah korban yang sedang dibatasi haknya untuk berekspresi menyatakan ketidaksetujuan dari “Gay Agenda” dalam menyebarkan “penyakit”-nya.
Garis besarnya sih, in my opinion, mereka hanya “melindungi” generasi muda dan anak-anak untuk “tertular” dari pilihan gaya hidup yang salah (yang sedang gencar dikampanyekan oleh kaum LGBT).

Juga, beberapa hari yang lalu, dari acara “diskusi” di sebuah tv nasional yang menghadirkan beberapa narasumber, yang sayangnya hanya menghadirkan para “pakar” yang memiliki satu visi. (gak nonton sih, udah ketebak acaranya kaya gimana)
Mungkin sempat menjadi satu postingan di facebook yang menyebar dari satu orang ke yang lainnya... dengan kata “skak-mat” bahwa menurut text book... it was clearly said that homosexuality IS a disease... meskipun saya ga lihat acara-nya... sedikit banyak saya tergelitik untuk meng-cross check... eh, ternyata memang text book-nya ga dibaca dengan bener.
Kalo saya yang jadi pakar di acara itu, dan mengeluarkan statement yang ga sesuai... harusnya sih saya malu... Tapi namanya di Indonesia, asal banyak yang dukung, ya cuek aja... 
Majority is considered to be “the correct one”.

Dari pengamatan saya... dan sedikit analisa... *cieee*
Semua yang dikatakan dan dipikirkan oleh yang anti-LGBT... basicly “cuma” karena mereka TIDAK TAHU.
Sayangnya, dengan segala dalil dan rujukan yang sulit untuk disangkal “kebenarannya”... hanya membuat para tokoh dengan watak “POKOKNYA SAYA YANG BENER! POKOKNYA...!!!”
Masih banyak orang (mostly straight) yang menganggap that “Being Gay IS a Choice”.

Yah... for me, that kind of thought is kinda irrational.

In all of phase of life... since the very beginning, as long as I can remember... there was no time in my life that made me chose... whether I would be a straight or gay...?

One video that gave me tear when I watched it over – and over...


Yeah... If becoming a gay was a choice...
Why would I choose to be one?
Eventhough I’m not the smartest person, I’m also not an idiot who would choose to be one who "considered" as a pervert, someone who has "less" right than everyone else... someone who is thought as "lower" than animal... *sigh*

If it was a choice, as someone wrote in the video, I surely chose to be a straight... and my life would be – somehow – a bit easier... :’(

Beberapa minggu belakangan, temen SMP invite saya untuk gabung grup WA, isinya alumni SMP yang sekarang hampir semua –if not everyone- have been married...
Bahkan sampe masing-masing ngirim gambar pasangan dan anak-anaknya...
In my age... which is already not young anymore...
Of course I dont want to live all by myself...
Sometimes, all I could do was just smiling when someone asked me question... “udah berapa anaknya?”, or ignored the question in chat...

How I wish they knew...
If it was a choice...
Who on earth would choose to be “the abnormal one”...?


... to be continued ....


May 21, 2011

Happiness is...


Jadi, baru nyampe tadi pagi di ibukota Propinsi karena ada keperluan.
Semaleman digoyang ombak, sempet muntah-muntah 3X di kapal, sampe sore ini juga masih rada kerasa mualnya, meski ga ngeganggu selera makan... *sigh*

Udah kepikiran pengin ngeblog, tapi belom sempet mulu... ga ada mood...
Secara ni di kota lagi hujan... mau jalan ga ada temen... mau makan... nunggu agak maleman aja degh... *memandangi perut*

Jadi dokter PTT di tempat terpencil, gaulnya selain dengan sesama dokter senasib-seperjuangan, juga kudu baik-baik ama dokter yang udah menetap dan jadi pegawai negeri sipil di situ.

Ceritanya, sekitar seminggu yang lalu, saya dan beberapa temen sejawat diundang makan malem di tempat seorang dokter spesialis yang udah tinggal di situ sudah sekitar 14 tahunan, sejak dia masih GP dan sekarang udah jadi spesialis.
Dapet istri orang setempat, punya usaha yang cukup maju. Jadilah pasangan ini adalah salah satu orang yang "paling" berada di kabupaten tempat saya tugas.

Ni dokter baru selesai bikin rumah, untuk ukuran tempat dengan kategori sangat terpoencil, bisa dibilang ni rumah lumayan spektakuler.
Kalo saya bilang sih, yang bikin rumahnya jadi luar biasa karena letaknya yang tepat di bibi bukit landai dengan view langsung ke teluk kabupaten.
Jadi kalo sunrise/sunset, katanya sih bisa langsung liat matahari langsung keluar/masuk dari/ke laut gitu...

Pas acara kita makan2 itu, sempet diceritain, gimana proses pembangunan tu rumah dari proses beli tanah, perijinan (yang pake jasa "kenalan"), desain, beli bahan2 bangunan (dari Jawa), sampe proses pembangunan yang katanya musti ditungguin, secara kadang suka dicurangi...
Sempet diceritain, udah jadi dinding, kudu dibongkar lagi karena menurutnya ga sesuai "standar" yang dia mau...
Mangkanya, kalo denger-denger "neighbour-whispering" (bisik-bisik tetangga maksudnya!!! *garing*) katanya sih, total jendral bikin tu rumah sampe ber-eM-eM...

Selang beberapa hari, kalo pagi jaga UGD dan ga ada pasien, saya dan temen-temen sukanya nongkrong di ruang jaga, sambil ngapain lah... nonton dvd... ngemil... ngobrol...
Seorang temen, nyeletuk... betapa enaknya jadi si A (temen sejawat yang lain), anak dokter spesialis cukup kenamaan di kota, emaknya juga pengusaha, masih keponakan dokter yang punya rumah baru di atas, otomatis, duit gaji PTT-nya relatif masih utuh...
Atau si B (temen sejawat yang lain), anaknya Kepala Dinas, bokapnya punya bisnis yang lumayan, sekalinya liburan tahun baru kemaren... ke Turki aja gitu...

Singkat kata, kalo dari yang saya tangkep, temen saya ini cuma punya satu cita-cita... "Jadi orang Kaya, yang secara materi ga usah mikirin lagi... dia berprinsip, kalo jadi orang kaya, siapa juga bisa "tunduk"..."
Kalo punya banyak uang, hidup pasti bahagia... gampangnya mungkin gitu...

Saya sih kalo denger orang bicara, meskipun ga setuju, saya jarang banget ngedebat orang, apalagi tentang hal yang "ga signifikan".

Beberapa hari kemaren,...
Di acara syukuran nikahan temen, tahlilan, dan makan-makan...
Di tengah acara makan-makan, saya lihat ni kakak-beradik, cowok-cewek, umurnya paling ga lebih dari 4 dan 7 tahun...
Berduaan, ni anak2 bolak-balik ngider ngambilin piring yang bekas dipake orang.
As we know, adatnya orang Indonesia... ngambil makanan prasmanan, suka lapar mata... semua diambil... icip2 dikit, ga dihabisin... ga seperti saya... ambil banyak, tapi habis... (BANGGA???!!! *byebye six-pack* *garuk2aspal*)
Sepele sih, tapi kasian aja gitu ngeliatin anak-anak sekecil gitu bolak-balik ngambilin piring, sekali angkut paling 3-4 piring... padahal undangannya mungkin sekitar 300-400 orang.

Yang bikin saya takjub, ni anak-anak, sambil ngangkutin piring-piring, dia ketawa-ketiwi aja, kadang kejar-kejaran, lomba cepet-cepetan ngambil piring... meski kadang saya rada watir kalo piringnya jatoh. Ga ada tampang mrengut karena terpaksa atau gimana...
Saya sempet mellow aja merhatiin, sampe temen saya yang kayanya nyadar, bilang sama saya ... "Bang, sampe takjub gitu ngelihatnya".

Saya gak mau sok-sokan jadi "Mario teguh" dadakan...
Tapi bener ya,... standar kebahagiaan itu beda dilihat dari mata setiap orang.

Kadang saya suka "ngiri" sama temen-temen yang begitu lulus bisa langsung lanjutin sekolah, ga usah mikir biaya dari mana.
Suka miris kalo ada temen yang santai-santai aja, padahal kesempatan terbuka lebar, hanya karena punya koneksi, bapak-mama-nya orang dengan "pengaruh".

Sampe sekarang,...
Saya masih meraba-raba... sebenernya apa yang saya cari?
Setiap manusia berhak untuk berbahagia dengan standar kebahagiaannya sendiri.

Mungkin...
Saya ga perlu mikir terlalu jauh, tentang arti bahagia...
Seperti yang saya lihat kemarin di paras anak-anak pengangkut piring itu.
Jalani saja yang ada, ga usah mikir telalu berat...
Dan sesekali tertawa lepas...

Toh hidup terus berjalan, seperti bumi yang terus berputar...

Yah... sudahlah...


PS:.... :)


March 31, 2010

Only Human...



A gak telat siy bikin postingan ini, biasaaa… MALESSS!!! *ditimpuk kolor*

Saya kira, gak ada Cong di Indonesia yang gak miris ngelihat apa yang terjadi di Surabaya.
Kongres LGBT dipaksa GAGAL, gak dikasih ijin oleh aparat karena dianggap dapat menimbulkan keresahan dan gangguan stabilitas keamanan.

Setahu saya, kongres yang diadakan, kalo gak salah, semata-mata, “Cuma” untuk menyuarakan persamaan hak…
Singkat kata,…
Tidak seharusnya seseorang diperlakukan “berbeda” hanya berdasarkan orientasi seksualnya…
Simple, bukan???!!!

Tapi, ternyata…
Dari demo dan koar-koar kelompok yang mengatributi dirinya (-sendiri!-)sebagai “PASUKAN PENEGAK dan PENJAGA ‘MORAL’”, yang saya kira punya slogan “POKOKNYA GUE YANG “MAHA” BENER, KALO SITU GAK SETUJU,… SITU BERANI AMA GUE???... SERBUUU!!!”
Saya nangkepnya, apa yang di”protes”… kok rada gag nyambung ya???

Salah seorang “pemimpin” yang sempat saya lihat memberikan statement… waktu ngegerebeg “markas”-nya satu LSM cong di Surabaya…
Ngegerebeg di sini means, jedar-jeder pager, tereak-tereak bertabur nama TUHAN, coret-coret pakek pilox (tulisannya apa yah??? *lupa*), gembok pager (katanya sih, koncinya dikasiin ke Pak RT???)…

PakDe Jenggot (-gag inget namanya-) itu ngemeng,…
“Mereka (LGBT)- lah sebenar-benar teroris… teroris moral… yang bisa menjerumuskan masyarakat ke dalam kesesatan…”…
Ummmm, ga inget juga sih persisnya gimana… tapi seinget saya sih gitu.

Atau, saat mahasiswa juga berdemo menentang adanya Kongres…
Lagi-lagi… satu ajian pamungkas yang selalu dipake untuk “menolak” keberadaan Cong…
“Tidak ada satu agamapun yang membenarkan perilaku Homosexual”…
Keliatan banget, segitu gampangnya menilai seseorang (atau kelompok) hanya berdasar asumsi dan prasangka… juga stereotype…

Gag bosen-bosennya saya tulis…
Kalo jadi cong adalah sebuah pilihan…
Siapa juga yang mau di”gituin”… ditunjuk-tunjuk sebagai kaum perusak moral… dikata-katain sebagai makhluk tak berakhklak…
Bahkan, sudah dicap sebagai calon penghuni neraka…

Gak “cuma” itu, di dunia pun seolah tiada tempat yang layak… sebagai kalangan yang tidak “berhak” untuk eksis…
Kasarnya, seperti tak layak dianggap sebagai seorang manusia…
Okay, mungkin saya terlalu berlebihan…
Tapi, apa gag berlebihan apa yang dilakukan dan diprotes orang-orang “itu”???

Ketika dibilang, cong adalah sebenar-benar teroris…
Howcome??? Everyone knows…
As a matter of fact… Congs selalu menjadi “korban”
Ketika seorang anak laki bersikap lemah-lembut,… dari sekedar cuma digodain, objek cemoohan, ejekan,… dan bukan gag mungkin jadi sasaran kekerasan…

Atau, bukan cerita baru…
Pernah denger ungkapan “Bisa aja ada yang namanya Bekas Suami atau Bekas Istri… tapi gag ada yang namanya Bekas Anak…”
Tapi nyatanya, ada loh, ketika seorang anak menyatakan jati dirinya sebagai cong… tanggepan negatif keluarganya macem-macem, dari mulai didiemin, dipaksa untuk “berobat”, bahkan diusir dan dicoret dari silsilah… dianggap jadi aib bagi keluarga…

Padahal, seperti yang pernah saya tulis di postingan kapan taun dulu…
Kalo di dunia ini ada satu tempat di mana kita bisa dapet yang namanya “unconditional love”-Cinta Tanpa Syarat… harusnya tempat itu adalah KELUARGA…

Dan ketika gerombolan “Manusia Tuhan” (-pinjem istilah-nya Apis-), itu dengan “beringas” mengusir para peserta Kongres -dengan ancaman-, jadi sebenernya, siapa yang meneror siapa sih???

Belom, anggapan yang berkembang…
Seolah-olah, cong tu kerjaannya ga lain cuma ngejar-ngejar para straight terus berusaha menyebarkan “penyakit” supaya ketularan…
I even was not so sure that they were talking about Gays, Avian Flu… or anything contagious… ?
Emang sih, ada cong yang terobsesi ama laki straight…
Tapi bukan berarti sembarang laki juga kaleeee… don’t flatter urself!!!
Please degh… gag semua laki straight have decent look tau! Gag percaya??? Ngaca!!!
Dari yang saya lihat… orang-orang yang demo itu, gag ada tuh yang masuk “criteria”…
Beside, nowadays, many gays do look better than straight kok!!!

Lagian, kalo emang laki straight beneran,… mo dirayu gimana juga… paling banter cuma dapet “fun experience” doang,… dan bukan gag mungkin… malah dapet jitakan!!!
Bertepuk sebelah tangan lebih jadi kemungkinan yang paling besar…
Itu baru yang superficial…
Pernah gag, denger seorang menyatakan kejijikan ketika ngomongin tentang cong…?
(For me, that kind of straight (or cong in denial!) doesn’t even deserve to be adored).

Memang, ketika pembicaraan tentang cong kalo dibawa ke ranah religi, ujung-ujungnya selalu jadi ajang “penghakiman”…
Baiklah…

Tapi, boleh nggak… kalo seenggaknya, seorang cong jangan cuma dinilai dari “perbedaan”-nya???
Seorang gay, juga manusia…
Yang dalam hidupnya, juga bisa berkarya… berbuat sesuatu bagi hidupnya dan ga sedikit juga yang memberikan manfaat bagi orang lain….
Toh, seksualitas (kalopun berpengaruh…) tidak mengurangi kapabilitas seorang cong untuk bekerja dan hidup selayaknya manusia biasa.
Manusia yang bisa merasa,…
Kadang terluka…
Dan juga ingin bahagia,… terlalu berlebihan kah???

Lagipula, adilkah bila seorang dihakimi, sedang sejak awal, keputusan sudah dipengaruhi oleh prasangka ???
“Ketika satu jarimu menunjuk, setidaknya tiga jari yang lain mengarah pada dirimu sendiri”.
Mengenai dosa…
Hey, tiada manusia yang sempurna…

Saya percaya, segala sesuatu kembali pada-Nya, Dan tiada satu makhluk pun yang lebih berhak untuk menilai, selain Dia…
Sang Maha Adil,…
Maha Bijaksana… Yang menciptakan segalanya, sesuai dengan perhitungan yang tak pernah salah….

Mungkin masih lama, manusia di Indonesia bisa menghargai “my people” layaknya sesama, yang gag perlu diberi label hanya karena ke-gay-annya.
Tapi, tak henti saya berharap…
Andai semua orang bisa mengerti kalo seksualitas biarlah menjadi urusan tiap-tiap individu…
Toh, yang ngejalanin juga sendiri-sendiri…
Emang mao jadi exhibitionist semua???
Lha wong nonton bokep kalo rame-rame juga malah ga konsen *apaaaa coba?*

Peace aghhhh!!!
Semoga semua makhluk berbahagia… *nyontek terusss*


PS: Lewat midnite… sambil denger lagu-lagu adem… lagi-lagi termenung waktu denger….
“Meski ku rapuh, dalam langkah…. Kadang tak setia, kepada-Mu…
Namun cinta dalam jiwa hanyalah padaMu…
Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMu…
Dalam dada, kuharap hanya diriMu yang bertahta…” – Opick (Rapuh)


January 08, 2010

Dreaming BIG Dreams




U dah bisa diprediksi, setiap mendekati akhir dan melewati pergantian tahun...
Postingan tentang evaluasi dan resolusi betebaran di mana-mana...
Good for them...
For being optimistic.
Wish them all the best!

Sementara, meskipun belakangan coba posting yang bernuansa positif... sedikit banyak juga karena ada rasa ingin menyemangati diri sendiri.
Yang setiap hari, gag pernah lepas dari pikiran...
What should I do next?

Katanya, jangan tanggung-tanggung untuk bermimpi.
Dreams are like feathers, If U have enough, then You can fly...

Saya masih bermimpi dan setiap hari gag lupa mengucap doa.
Semoga Tuhan bukakan jalan buat saya...
Sambil gag lupa minta diparingi sabar, untuk jalanin hidup seperti apa adanya...

Ummm,...
Mau curhat niy...
Jadi, yang bosen... monggo di-skip ajah...

Sedikit kilas balik jaman lulusan SMA,...
I used to be a pessimist, I didn't sure about my capability...
Jadi, waktu milih sekolah... ndaftar di mana-mana... ada yang karena ngikut-ngikut... juga cadangan kalo-kalo gag lulus UMPTN.

Belakangan, kadang suka ngayal,...gimana kalo dulu saya tetapin ajah kuliah di Sekolah Akuntansi itu, udah sampe daftar ulang segala.
Daftar D3 di Jogja, teknik Elektro cuma karena keliatannya keren (bukan saya pisaaaannnn!!!)... keterima, tapi mikir sejuta dua belas kali untuk ambil.
Alhamdulillah, UMPTN lulus, dapet FK... yang meski saya akhirnya pilih, sebagian karena ingin ngelulusin keinginan orang tua.

Sempet perang batin waktu mau ngebatalin STAN, secara, udah daftar ulang...
Coba kalo dulu tetep keukeuh kuliah di sana, jadi seniornya si pegawainegerisexy yang paling jutek, ngegencetin junior-junior yang kecentilan *berasa siswi SMP*... mungkin jalan hidup saya bakal berbeda... tiap hari ngitungin duid...
Tapi, bukan gag mungkin juga siy... udah kena drop out... heheh...

Bukan... saya gag nyesel jadi dokter...
Instead, everyday... trying to gratitude more than complain about things...

Cuma, yang namanya manusia...
Mesti dong punya keinginan, It's so... human...
Like me...

Seperti pernah saya posting kapan waktu yang lalu, pengiiinnn banget bisa ngembangin karir...
Sekolah lagi...
Apalagi ngeliat temen-temen barengan PTT yang segitu optimisnya melangkah, dengan impian yang menakjubkan...
Sudah menetapkan standar dan merancang mimpi, dan dengan semangat meniti langkah...

Pengin banget bisa seoptimis teman-teman...

Baca-baca blog tetangga, begitu banyak mimpi dan harapan... dan gag sedikit yang telah menemukan jalan...
Mimpi menjadi nyata, hanya tinggal menunggu waktu saja.

Rasanya, seperti tertinggal...
Dan kadang, rasanya seperti mentok aja gitu...

Bukan rahasia, untuk sekolah lagi...
Begitu banyak prasyarat,... terutama dana... *sigh*... UUD...
Belom lagi, koneksitas masih begitu berperan...

Andai saja, bapak saya adalah menteri atau pejabat yang dapet boil yang harganya semilyar ituh...
Atau, sempet ngobrol-ngobrol ama temen sejawat... kaya'nya kudu cari bini anak orang kaya...
Khayalan bodoh yang bagai punguk merindukan bulan...

Tak henti-henti saya memohon pada Sang Penentu Segala Kejadian...
Mungkin suatu waktu ada sedikit celah buat saya...
Suatu hari nanti...

Semoga...


PS: Hanya bisa mengelus dada melihat berita-berita korupsi dengan jumlah uang gag terbayang ituh...
"Duh...Gusti, paringi sabar!!!" ... Amiinnn...!

December 29, 2009

Peace, aghhhh!!! (n_n).v..




K apan bulan yang lalu, Jeung Lexy pernah posting tentang Unity in Diversity,...
Udah dari jaman SD, selalu diajarin tentang Bhinneka Tunggal Ika...

Walau nyatanya, isu Agama, Ras dan Golongan selalu jadi hal yang sangat rentan dan punya potensi besar untuk menyulut pertikaian.
Dari hal sepele sampe yang "katanya" prinsipil.

Saya, yang udah lebih dari setahun ini tugas di daerah "bekas" konflik, yang kalo denger cerita dari masyarakat setempat, kejadian waktu itu, bener-bener gag pernah terpikir bisa terjadi...
Ketika manusia dengan "sadar" saling membunuhi sesamanya.
Ada yang bilang, demi kebenaran... Bahkan "Jalan Tuhan"... hal yang "diperintahkan".

Padahal, kalo saya tanya apa sih asal-muasal kejadian yang mencetus terjadinya tragedi kemaren.
Belom juga saya dapat jawaban yang terang,...
Karena tiap orang memiliki versi ceritanya sendiri-sendiri.
Atau, paling konyol... waktu saya tanya... ada yang jawab,
"Sebenernya, kita juga gag ngerti apa penyebab awalnya... Cuma provokasi ajah.."
D'oh!!!!!

Jadi keinget salah satu quote dari salah satu film (tapi lupa film apa... *d'oh!!!*), waktu salah satu karakternya bilang,
"I don't believe in any religion... Coz religion divides people"
Hmmm...

Atau, salah seorang kenalan (dulu sempet jadi demenan...*sigh*) yang dengan jelas ngomong,
"I believe that there is the GREATEST ONE... but I always have a friction with any religion..."
Singkatnya, kalo kata orang mah,... agama-nya cuma tertera di KTP... tapi, practically, he doesn't believe any...

Bukan...
Saya gag mao kampanye mengajak menjadi seorang Atheis... atau Areligi (-orang tanpa agama istilahnya apa, yes???-)
Bahkan, terus terang...
I don't have any problem at all with my religion...
Or any religion...

Sebagai seorang yang memeluk agama karena "warisan"... terus terang, sampe sekarang sih... saya masih merasa nyaman dengan apa yang saya percaya...
Dan Insya Allah, tak ada niatan buat saya untuk berhenti mempercayai-Nya...
Tentu saja, memuja-Nya dengan cara-cara yang agama saya ajarkan...
I always try to do my best... semoga... amiin...

Sekarang, saya cuma mau tulis apa yang saya pikirkan..
Menurut saya, keberagama-an seseorang adalah hak setiap orang untuk menentukan...
Masih inget, dulu waktu jaman SMA, pulang dari kost setiap malam minggu ke desa, sering tidur di rumah nenek... menemani beliau yang tinggal sendirian..
Menjadi saksi ketika setiap kali nenek saya shalat, selalu membaca Al-Fatihah di hampir setiap gerak-rukun-nya...
Tiap lewat tengah malam, pagi masih buta...
Nenek saya selalu melakukan "ritual"nya...
Berdoa...
Di usia senja-nya... tak pernah lupa beliau mengucap "keinginan"-nya atas anak dan cucu-cucunya... semoga selalu dalam lindungan Tuhan...
Dalam bahasa Jawa...
*menerawang dalam nostalgia*

Jadi ngelantur...
Intinya siy, dalam agama saya ajah, kalo gag bisa mentoleransi "perbedaan"... sering banget saya lihat orang saling merendahkan, menyalahkan hanya karena berbeda dalam hal pemahaman dan pengamalan.
Paling ekstrim siy, yah... sepeti yang di tivi-tivi...

Di sini bukan juga saya membela orang-orang yang "nyeleneh" mendirikan agama baru... bahkan mengaku sebagai "nabi" atau "titisan" apa lah...
Sudah ada orang-orang yang lebih berwenang dan paham untuk memikirkannya...
Saya sudah merasa nyaman dengan apa yang saya yakini... walau saya masih kudu terus belajar memahami lebih dalam...

Secara, beberapa hari kemarin sebagian sodara merayakan hari besar keagamaannya...
Saya pribadi bukan orang yang mengharamkan untuk saling memberi ucapan selamat...
Bukan rahasia, ada yang beranggapan... itu dilarang... karena sadar atau nggak, berarti telah merestui dan mengakui ajaran yang "berbeda"...

Pemahaman saya atas agama mungkin belum seberapa...
Tapi saya percaya, hanya Tuhan yang tahu apa-apa bahkan rahasia terkecil yang ada di dalam hati dan benak saya...
Biarlah Dia yang menghakimi segalanya...
Kalo Tuhan mau cuma satu agama saja yang ada...
Buat apa dia menciptakan manusia yang memiliki kadar penerimaan yang berbeda-beda...

Buat saya, tiap agama pasti mengajarkan para penganutnya untuk menempuh jalan kebaikan...
Hanya saja, kadang masih ada manusia yang "gag rela" melihat orang berbuat kebaikan dengan standar yang berbeda...
Bahkan ketika menyentuh ranah "perbedaan"...sering kali timbul prasangka...

Tidak ada manusia yang hidup selamanya...
Kalau saja, setiap kita saling berlomba... menjadi manusia yang paling berguna bagi sesama, tanpa melihat apa dan siapa...
Mungkin tak perlu ada perang itu...
Pembantaian itu...

Udah dulu agh... makin gag jelas ajah!!!
Sok belaga bijak... ga ada pantes-pantesnya!!! xixixix...

Sebenernya sih, intinya mah mau ngucapin...
Bagi temans yang merayakan...
HAVE YOURSELF A VERY MERRY CHRISTMAS!!!

Semoga semakin Damai di Semesta Jagat Raya... amiinnn...!!!



PS: Oh, iyah...
Saya demen loh dengerin lagu-lagu Xmas, seperti...
The Christmas Song-nya Nat King Cole (juga versi-nya Celine Dion), Petit Papa Noel, atau All I Want for Christmas is You (eh ini mah lagu cinta dhink ya?)...
..."All I want For Christmas... IS YOUUUUUU".... aghhhh... andai ada yang menyanyikan lagu itu buat saya... *senyum2 gag jelas*



December 11, 2009

Tak'kan Menyerah...



B elakangan, saya yang makin gag mudheng dengan selera orang-orang di Peradaban sana...
Terutama barudak ABeGe yang keranjingan lagu aneh dengan lirik maksa,
"Aaaakulaahhhh sang maaaantannnn..." (Kalo gag salah, kapan minggu kemaren jadi lagu nomer 1 di satu acara musik tivi, I just don't get it, okay!!!)
Atau, lagu yang saking seringnya diputer di mana-mana, sampe eneg denger...
"Benar kooo mencentaeemoooo... tapi tak begonooooooo..." (-versi cecep-)

Ummm, bukan mao bikin review musik Indo...
Cuma, (lagi-lagi!!!) pengin mellow...
Semalem, abisan pulang dari makan malem bareng-bareng temen se-Mess... keujanan... sampe Mess, langsung ketiduran di depan tivi...
Shalat Isya ampir kelewatan, untung, ujug-ujug kebangun sebelum adzan Shubuh berkumandang...

Sambil nunggu waktunya Shalat lagi, pun niat mao Jogging pagi, daripada balik tidur, mendingan ngetak-ngetik buat postingan di Blog...

Satu lagu yang sebenernya udah rada basi...
Mungkin pertama edar waktu bulan Ramadhan kemaren...
Tapi, gag tau kenapa, belakangan makin suka ajah...
Apalagi kalo didenger baek-baek... diresapi dengan hati (mulai lebay!!!)... somehow, jadi pengin mewek ajah getoooo...

Pas banget, kalo didenger belakangan...
Di mana, beberapa orang dengan sengaja terjun bebas ajah dari Mol-Mol lantai berapa gitu... tetep yah, pengin eksis... sampe-sampe bunuh diri di keramaian gitu... *sigh*

"Tak ada Manusia, yang terlahir sempurna..."
"Jangan kau sesali, segala yang telah terjadi..."

Andai manusia bisa memilih untuk dilahirkan sebagai siapa, apa, dan gimana..
Mungkin semua inginnya dilahirkan dengan rupa tanpa cela, terus... gag usah banyak kerja... cuma ngomong "ojeck dan betjeck, atau gastroooowww" ajah, dapet duid...
Dan (curcol!) saya pun, mungkin gag pengin jalanin hidup jadi seorang cong... mending jadi straight, kalo udah kerja... terus nikah, atau bahkan berpoligami (yang meski banyak yang menentang,... tapi gag dianggep sebagai dosa...) *cape!*

"Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat..."
"Seakan hidup ini tak ada artinya lagi..."

Kalo jadi cong emang adalah satu cobaan...ujian... atau apalah namanya...
Apakah menjadi straight, adalah tujuan dan syarat "kelulusan" dari ujian yang diberikan???

Mengutip dari postingan kapan taun dulu, dari salah satu blogger yang tulisannya sering membuat saya terpana,...
"Kalo gusti Sing Paringi Urip sedang kasih ujian... boleh nyontek gag ya?"
Sempat saya plagiat di status fb saya... seperti udah diduga, komen temen-temen intinya satu...

"Bisa banget... contek dari Rasul-Sahabat-orang beriman dalam menghadapi masalah..."

Emang waktu jaman Rasul dulu, ada sahabat yang cong yah???

"Syukuri apa yang ada... hidup adalah anugerah..."
"Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik..."

Sampe di bagian ini, selalu sukses membuat hati saya sedikitnya tergetar...
Apalagi kalo sedang sendirian kaya sekarang... bisa sekonyong-konyong sesenggukan...

Karena banyak hal yang bisa saya syukuri... dan sedikit mengalihkan perhatian dari lelahnya bertanya... "kenapa saya?"
Contoh,...
Ketika seorang temen sejawat, segitu repotnya milih-milih makanan, gag bisa makan sayur... pahit katanya...
Saya... Alhamdulillah... sampe sekarang, hanya ada dua kriteria makanan... "enak dan enak banget"... (matakna, gendud!...*sigh!*)

Ketika saya diajak jogging pagi sering nolak, karena pagi hari waktu jam biologis saya untuk menunaikan "panggilan alam" (xixixixi...)...
Males banget kan lagi asik-asik lari, tau-tau mules...
Temen yang laen bilang,..." igh...ngiri deh... gue b*ker gag jelas kapan, pengin deh bisa teratur kaya lo"
Walau bukan hal yang bisa dibanggain, tapi, ngasih saya satu alasan untuk bersyukur... tentang hal yang "kecil"...

Satu lagi,...
Kalo temen sejawat, paling susah... untuk tidur kalo gag di atas kasur dengan seprei yang bersih...
Saya???...
Kalo udah ngantuk... gag ada kasur... tidur di sofa,... atau cuma beralas tiker ajah, Alhamdulillah bisa sukses tepar seketika...

Dan dihubung-hubungin dengan masalah "cong".
Mungkin saya gag bisa memiliki "nafsu" terhadap wanita...
Tapi, bukan berarti saya membenci juga...
Saya bisa kok, jadi seorang temen, yang mendengarakan keluh-kesah dan cerita...
Atau sedikitnya, jadi tukang angkut-angkut barang... *sigh*

"Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan Kuasanya..."
"Bagi hamba-Nya yang sabar, dan tak pernah putus asa..."

Meski bukan sebagai hamba ter-favorit-Nya
Yah... semoga Tuhan melihat... (saya yakin, Dia tahu...)
Kalo saya juga selalu berusaha...
Setidaknya, gag jadi makhluk-Nya yang berbuat kerusakan dan merugikan sesama selama usia saya menghuni bumi...

"Jangan Menyerah... Jangan Menyerah.... Jangan Menyerah!!!!"

Satu harap...
Apapun jalan yang di-takdirkan...
Semoga Tuhan membantu saya ... melewatinya...

Atashi Ganbare Wa... heheh... (sotoy!)



PS: Dan tertakdir menjalani segala kehendak-Mu, ya Rabbi...
Ku berserah... Ku berpasrah... Hanya Pada-Mu ya Rabbi....



December 01, 2009

Straights Discuss Cong




S ejak beberapa minggu belakangan ini, anak-anak (sesama dokter PTT) yang tinggal di mess.
Jadi kebiasan baru, hampir tiap sore... masak bareng...
Makan malem juga ngumpul semeja, yah... lumayan sih, bisa ngirit pengeluaran.
Sekaligus, bisa ngasah kebisaan saya buat masak juga...
Bukan saya sendirian doang yang masak siy, chef-nya juga keroyokan, menu-menu ceria dengan bahan-bahan sedapetnya.

Selesai makan, udah jadi kebiasaan, ngobrol-ngobrol... ketawa massal, nggosip-nggosip, atau saling mencela... heheh
Ngalor-ngidul, dari urusan kerjaan, pengalaman jaman dulu waktu masih muda, pun kenakalan masa remaja (heleh!).
Pindah ruangan dari ruang makan ke ruang tamu yang lebih adem, sambil menikmati angin semilir, walau kadang suka denger tereakan dari rumah sebelah (katanya siy, suka ada yang kesurupan! *hiiiyyy*)

Sampe satu malem, awalnya sih cuma ngobrolin biasa-biasa ajah...
Dan berhubung salah satu teman sejawat -bisa dibilang dedengkot-nya dokter PTT di Kabupaten ini (secara, doi emang paling senior dan paling duluan angkatan PTT-nya)- beberapa bulan ke depan bakalan memasuki gerbang pernikahan.
Eittsss...tenang, santai...bukan ngomongin lagi tentang pernikahaan sekarang mah, bosen juga toh... lagian konklusinya juga udah jelas masalah yang satu itu mah!
Sampe ke topik yang agag luar biasa... tapi, mengingat semua hadirin (*opo kuwi???*) adalah juga bukan anak kecil (yang kudu merem tiap ada adegan jorang waktu nonton film!), sampe pada masalah sex...
Timba ilmu dari yang udah pengalaman (beberapa emang udah menikah!), konsultasi malam pertama lah,... mengira-ngira gimana tau sang istri kesakitan apa nggak... kalo sakit, kudu gimana.... kalo untuk pertama sakit, yang ke-dua-ketiga gimana... tanda-tanda wanita orgasme gimana...
Hmmm...
Saya???
Yahhhh... cuma mengamini ajah... berhubung ngobrol dalam keadaan santai dan seringkali ditimpali dengan lucu-lucuan... ikutan ngakak ajah....

To be honest, sampe sekarang, ... belom kepikiran gimana misalnya saya kudu di atas ranjang kalo sama seorang wanita???
Ngebayanginnya ajah... aduuuhhhhh... kumahaaaa kitu!!!

Yang menarik,... topik pembicaraan beralih sampe ke hal yang di luar dugaan sayah...
Ujug-ujug ngobrolin masalah homo...

Degggg...

Salah seorang temen bilang, "Kok bisa sih, emang gag jijik gitu?"
Yang lain menimpali..., "Agh, yang namanya laki mah yang penting masuk lobang..."
*ngakak bareng*

Satu lagi, cerita... kalo di kampusnya ada seorang konsulen yang "gitu"... suka ganjen kalo sama mahasiswa-nya... terutama yang sesuai dengan typenya... *minta ditampar tu dosen!!!*
Ditimpalin, "Kata temen gue, para gay tuh punya cara ngedeketin "mangsa"-nya... pertama-tama... ngebaek-baeeeeekiiiinnn... pelan-pelan "memperalat" sampe akhirnya "mau"..."
*pengin protes...tapi cuma bisa memaklumi*

Yang laen nggosip, katanya artis ini (gag nyebut merek looohhh!) jadi simpenan seorang dokter spesialis di kota itu, waktu temen saya sekelompok minta bimbingan di rumah si dokter,... yang nyuguhin minuman, yaaaa... si artis itu...
Atau, si Anu sebenernya udah nikah di Belanda sama si Itu... si Anu yang jadi laki-nya, terus si Itu yang jadi ceweknya...
*sigh*

Satu statement dari seorang temen...
"Kalo dipikir-pikir siy, kasian juga... Lah siapa juga yang mau dilahirin kayak gitu!
Gag masuk akal siy, tapi toh buktinya ada!
Gue siy gag abis pikir, ngapain siy sama laki, yang jelas-jelas sama..."

As a discreet gay, gag mungkin saya nimpalin, apalagi sok mendebat-memberi penjelasan... (*coward, huh?*)

Dan sebenernya, temen-temen saya ini adalah orang-orang baik, yang sedikit banyak juga berpikiran cukup terbuka.
Cuma, misalnya mereka "tahu", kayaknya bakalan laen ajah.

Okay, this time, maybe it's me who judge them unfairly.
Tapi, I just couldn't take a risk.
It's something that I think just a way too huge to be jeopardized.

Some part of me just too afraid for being hurt by their "unacceptance", but most of all... it's my insecure feeling when I realize that there must be something in me that would be gone.
As we know, people just labelize...
Even if they didn't show it, vividly...
We live in a society that separate people by image, stereotype... or whatever it named.
People talk,... and judge.

Jadi, dengan temen-temen sejawat di sini, cuma bisa mencoba ngerti ajah.
They just don't understand...

Padahal, kalo aja mereka ngerti... that my gayness won't affect anything in my capability of being a human... just like everyone...
Gag mentang-mentang saya cong, terus otomatis tiap hari ngincer-ngincer cari kesempatan ngedeketin sembarang laki... yang penting punya t*t*t.
"Hey... I have my own type kaleee...!!!"

Kadang suka gag ngerti juga ama temen-temen cong yang "terobsesi" dengan laki straight...
Bahkan, di salah satu forum yang pernah kapan taun saya baca... ada cong yang segitu ngebetnya pengin ML (*hayah!*) sama laki straight... dan langsung ilfil kalo laki yang dia incer ternyata cong juga, for me, it just doesn't make any sense... at all...

Ummm, cuma pengin sedikit berkoar-koar ama temen-temen cong,...
Be a cong... with pride, duonx!!!

I have a dream, mungkin satu saat nanti, imej cong bisa berubah.
Secara, saya tahu... banyak cong yang hidup dengan profesi dan kedudukan yang layak.
Dan satu fakta, kalo gay... juga manusia...



PS: Gays all over the world... BEHAVE-nya diperhatiin yes!!!
Love U all...!!! *mwuahhhh* - *dadah-dadah-pakek-telor*



November 03, 2009

I'm Not Anyone's Enemy

Minggu, 1 November 2009

Sekali lagi, seorang sahabat bilang sama saya via sms...
Beberapa kali dia baca postingan saya, terutama belakangan yang bilang kalo,

“So, far... in my mind, I didn't decide for becoming a cong...
I had never chosen to be one...
And somehow, I didn't think that a cong can turn to be straight...
It just something that is what I am... or “we” are...
But yes, it's a choice... to live as one...
or just denied that I was not...
And until now, I'm still trying to make peace with what I “really” am... a cong...”

Meanwhile, in about the same time...
Another blogger, cong juga, (atau... sekarang “mantan” cong), telah “memilih” jalan yang berbeda dengan apa yang saya jalani.
Bukan rahasia lagi, di kalangan cong... specially, those who live in a discreet scene.
Pada satu masa, harus dihadapkan pada satu keadaan di mana, kita harus memilih... mau gag mau...
yaitu pilihan untuk menikah... dan kemudian menjalani kehidupan sebagai seorang “straight”, seperti orang “normal” kebanyakan...

Postingan saya beberapa minggu ke belakang, sedikit banyak udah ngglambyar ke mana-mana, berusaha ngejelasin apa yang saya pikirkan... dan coba tuang dalam tulisan...
And apparently, seemed like... or at least, made my friend assumed that...
I was in the opposite side with other blogger-who-is-a-former-cong, and all that I wrote, suddenly confronted him with my “disapproval” of the way that he's chosen...

Singkat kata, dia ngira, saya menganut paham anti-cong-nikah.

Atau, waktu saya keilangan link ke blog-blog yang sering saya singgahi gegara pengin ganti template, dan lalu saya coba tambahin lagi seingat saya.
Kemudian saya mendapati bahwa salah satu blogger cong yang dulu lumayan sering kasih komen di postingan saya, dan coba nge-link lagi, ternyata selalu gagal saya buka...
Dulu siy, keterangannya, “Just for Invited readers” doang... (yang belakangan saya tahu, ternyata emang udah inaktif lagi... entah kenapa).
Si temen saya itu bilang, mungkin karena postingan belakangan yang beraura “anti-bi”...

Kemudian, saya coba baca-baca postingan ke belakang...
Dan bukan untuk melakukan pembelaan diri ataupun klarifikasi.
Kalo diperhatiin, sebenernya, selalu saya tambahin, semua yang pernah saya tulis, adalah apa-apa yang pernah terpikirikan ajah...
Lagipula, selalu saya bilang, gag pengin menghakimi siapa-siapa, apalagi menyalahkan!

Sekarang saya cuma mau posting sesuatu.

As a human, we live... we grow... and more important,... we learn...
I learned...

Recently, I thought quite much...
I read some blogs, those who already found the one, or the other who had made one of the hugest decision in their life, and those whom just like me... still dreaming, about finding that perfect someone... even them, who didn't care too much (or at all!!!) about love.
Pada akhirnya, saya mendapat satu kesimpulan,...

Kalo setiap kita adalah individu yang berbeda... dengan jalan cerita kehidupan yang tidak sama pula.
Jadi gag ada gunanya buat saya untuk membandingkan, menilai, apalagi menghakimi apa-apa yang orang lain lakukan.
Dengan kata lain, hanya karena pemikiran yang berbeda, bukan berarti harus menempatkan kita pada sisi yang saling bersebeberangan,... bertentangan, apalagi bermusuhan.

Suatu kali, suatu hal terpikirkan...
Ketika saya membaca postingan teman-teman cong yang telah memutuskan untuk menjalani hidup berumah tangga, dengan seorang wanita tentu saja...
Dan mendapati bahwa mereka ternyata bisa menjalaninya dengan biasa, bahkan mungkin dengan suka cita...

Ada yang terjadi dalam benak dan hati saya...
Bukan iri, apalagi dengki...

Terus terang, ada bagian diri saya yang merasa takut.
Somehow, I feel so insecure....
To stay gay...

Ketika banyak cong yang akhirnya, berdamai dengan tuntutan kehidupan, untuk menerima standar moral yang digariskan, dan mencapai kebahagiaan konvensional.

My ego says, that I'm scared...
To be left behind...

Saya kalut, karena hingga sekarang, saya gag mampu untuk menerima keberadaan seorang wanita sebagai teman hidup saya, menjadikan seorang dari kaum hawa sebagai belahan jiwa,... dan menghabiskan sisa usia, renta bersama-sama....
Memikirkannya saja, membuat saya tak ingin berlama-lama, dan berusaha mengalihkan perhatian.

Namun nyatanya (-lupakan tentang katanya... dan bikin mencret ituh!!! xixixi-) ada tuh, yang akhirnya bisa juga...

Saya selalu memiliki harapan dan keyakinan...
Kalo setiap orang berhak untuk merasakan bahagia...
Mungkin sebesar keyakinan saya, bahwa seharusnya tak ada perang di dunia, tidak seharusnya ada manusia yang dengan sadar membunuhi sesamanya... atau tidak sepantasnya ada kelaparan dan kemiskinan di satu tempat, sedang di bagian dunia yang lain tengah berlangsung pesta pora...
Dan nyatanya.... terlalu banyak fakta yang mengusik alam harap dan mimpi saya.

Walau hingga saat ini, saya masih tetap mencoba bertahan pada satu mimpi.
Kalo suatu saat, saya pun bisa mendapatkan bahagia, tanpa harus mengingkari, membohongi atau memanipulasi hati.
Dan ini bukan berarti saya bilang, kalo para “mantan” cong yang telah beristri itu berarti hanya mengkamuflasekan kenyataan... saya mengerti tentang pilihan yang (mungkin!) merupakan jalan yang terbaik atau bahkan sebagai hanya satu-satunya pilihan.

Untuk sahabat... yang tengah memulai mimpi baru,... dengan rumah tangganya, saya mengerti dengan keputusan yang telah diambil...
Mohon digaris-bawahi... saya tidak memusuhi kalian...
Tidak terhapus kemungkinan, suatu saat saya pun akan dihadang oleh kenyataan yang sama (sekarang pun sudah mulai tercium aroma dan terasa aura-nya! *sigh*)
Hingga masanya, entah apa yang harus saya siapkan bila saat itu tiba.

Hanya satu doa, mudah-mudahan semua sudah lebih baik, hingga saya bisa lebih siap untuk memutuskan tentang langkah yang akan saya tempuh... semoga...


PS: Dalam doa... saya harap, mimpi ini bukan milik saya sendiri... amiin!!!