February 25, 2016

Being a gay is a Choice... IS IT?

S udah lama rasanya sejak terakhir saya posting di blog ini... seperti mati suri...
Banyak kejadian yang sebenernya ingin saya tulis, tapi... selalu mentok dengan jadwal... atau udah keburu cape... meski sebagian besar, mungkin karena sebagian besar yang ingin saya tulis, tiba-tiba menguap gitu aja waktu udah mau mulai ngetik.

Sudah 4 tahun lebih, sejak pertama kali saya tinggal di kota ini, mudah-mudahan gak lama lagi bisa menyelesaikan proses pendidikan ini, meski masih banyak “hutang” yang harus saya kerjakan sebelum bisa tamat dan menyandang tambahan gelar... #gapentingya

Pada satu titik, saya harus menuliskan apa yang beberapa hari ini mengisi benak saya... sedih...
Kayanya dulu pernah nulis tentang bahasan ini, tapi ingin saya tulis lagi.
Sebagai catatan, semua yang saya tulis, berdasar apa yang saya alami, pikir, dan rasakan...

As we know, few weeks lately,... lagi heboh orang-orang ngomongin tentang LGBT... apa-apa disangkutin dengan LGBT, dan ternyata, hari gini masih banyak orang menganggap setiap LGBT dengan stereotipikal yang negatif.

Bebebrapa minggu yang lalu, seorang kerabat saya, seorang dengan jabatan di sebuah perusahaan besar, bisa dibilang, dalam keluarga besar, everyone was looking up on him... dengan latar pendidikan yang mengagumkan, dan sempat melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Singkat kata, I thouht his point of view, much less would be a bit expanded, regarded to nowadays culture (especially in western countries) which was a bit more friendly about LGBT.

Instead,... as one of the most frequent relative who updated his facebook’s posting, he said

“I will kill you, if you touch me one more time...”, caused by someone (gay?) touched him in front of his wife...
I didn’t know how “awfull” was the touch... was it so “teasing and embarassing”-kind of touch that might insult his pride?... so he thought that  they deserved to be murdered?
Satu lagi postingan-nya bilang... 
“ LGBT is a sickness... just accept that it is a disease, and get some help to be cured. It was just as simple as that!”

Atau, kultwit dari seorang anggota dewan yang dengan nama agama menjelaskan apa yang dia kira sedang terjadi di Indonesia, bahwa “kaum LGBT” sedang mengadakan suatu propaganda untuk melakukan kegiatan “penyebaran virus” LGBT dengan segala skenario yang menyudutkan... yang bahkan membuat seolah-olah “kaum normal (straight)” adalah korban yang sedang dibatasi haknya untuk berekspresi menyatakan ketidaksetujuan dari “Gay Agenda” dalam menyebarkan “penyakit”-nya.
Garis besarnya sih, in my opinion, mereka hanya “melindungi” generasi muda dan anak-anak untuk “tertular” dari pilihan gaya hidup yang salah (yang sedang gencar dikampanyekan oleh kaum LGBT).

Juga, beberapa hari yang lalu, dari acara “diskusi” di sebuah tv nasional yang menghadirkan beberapa narasumber, yang sayangnya hanya menghadirkan para “pakar” yang memiliki satu visi. (gak nonton sih, udah ketebak acaranya kaya gimana)
Mungkin sempat menjadi satu postingan di facebook yang menyebar dari satu orang ke yang lainnya... dengan kata “skak-mat” bahwa menurut text book... it was clearly said that homosexuality IS a disease... meskipun saya ga lihat acara-nya... sedikit banyak saya tergelitik untuk meng-cross check... eh, ternyata memang text book-nya ga dibaca dengan bener.
Kalo saya yang jadi pakar di acara itu, dan mengeluarkan statement yang ga sesuai... harusnya sih saya malu... Tapi namanya di Indonesia, asal banyak yang dukung, ya cuek aja... 
Majority is considered to be “the correct one”.

Dari pengamatan saya... dan sedikit analisa... *cieee*
Semua yang dikatakan dan dipikirkan oleh yang anti-LGBT... basicly “cuma” karena mereka TIDAK TAHU.
Sayangnya, dengan segala dalil dan rujukan yang sulit untuk disangkal “kebenarannya”... hanya membuat para tokoh dengan watak “POKOKNYA SAYA YANG BENER! POKOKNYA...!!!”
Masih banyak orang (mostly straight) yang menganggap that “Being Gay IS a Choice”.

Yah... for me, that kind of thought is kinda irrational.

In all of phase of life... since the very beginning, as long as I can remember... there was no time in my life that made me chose... whether I would be a straight or gay...?

One video that gave me tear when I watched it over – and over...


Yeah... If becoming a gay was a choice...
Why would I choose to be one?
Eventhough I’m not the smartest person, I’m also not an idiot who would choose to be one who "considered" as a pervert, someone who has "less" right than everyone else... someone who is thought as "lower" than animal... *sigh*

If it was a choice, as someone wrote in the video, I surely chose to be a straight... and my life would be – somehow – a bit easier... :’(

Beberapa minggu belakangan, temen SMP invite saya untuk gabung grup WA, isinya alumni SMP yang sekarang hampir semua –if not everyone- have been married...
Bahkan sampe masing-masing ngirim gambar pasangan dan anak-anaknya...
In my age... which is already not young anymore...
Of course I dont want to live all by myself...
Sometimes, all I could do was just smiling when someone asked me question... “udah berapa anaknya?”, or ignored the question in chat...

How I wish they knew...
If it was a choice...
Who on earth would choose to be “the abnormal one”...?


... to be continued ....


5 toyoran:

zaenal said...

Sp(?) apa nantinya? #eh #oot hehehe..

Anonymous said...

Tetap semangat ya. Saya kenal dokter lho. ayo dok kita ngomong2. :)

penik mat said...

gak ada yang mau jadi orang abnormal

luke! said...

Hey....apa kabar?

Sekolahnya belum selesai juga ya?

Gue baru bersihin sarang laba2 dan debu2 di blog gue nih, jadi baru mampir ke sini lagi.

Anyway, how's life? :)

Menoel said...

Setuju! Memang bukan pilihan sih.
Tapi banyak orang memilih untuk saling membenci :(